Guru adalah sebuah profesi yang mempunyai nilai lebih, melebihi
profesi lainnya di dunia ini. Jadi, tidaklah heran jika Rasululloh
bersabda yang antara lain menerangkan ada tiga golongan yang masuk
syurga diantara umatnya terlebih dahulu dari pada yang lain, yakni
seorang yang dermawan, penguasa yang adil dan yang terutama seorang guru
yang mengamalkan ilmunya dengan ikhlas. Luar biasa bukan, maka jangan
berputus asa atas rezeki Alloh wahai para guru! Anda dan saya adalah
ahli syurga!
Namun demikian, bukan berarti berhenti sampai pada
kebanggaan tersebut. Guru akan lebih mempunyai makna jika seorang guru
terus belajar dan mengembangkan keprofesionalannya.
Nah, sebagai
salah satu sarana pengembangan keprofesionalan tersebut di zaman yang
penuh dengan kecnggihan teknologi adalah memanfaatkannya sebagai media
belajar. Media belajar diperlukan untuk semakin menambah ketertarikan
siswa dalam proses belajar mengajar selain memberi ruang efesiensi. Guru
kini tidak lagi mendominasi sumber informasi belajar bagi siswa, banyak
sumber lain yang justru lebih menarik bagi mereka. Jadi, perintah Alloh
untuk selalu belajar sangatlah relevan untuk profesi seorang guru.
Training
yang dilaksanakan oleh Komunitas guru melek IT yang dipelopori oleh
master IT Bapak Sukani salah satu sarananya. Untuk itulah saya yang
masih remang-remang dalam teknologi ini mengikutinya. Dalam rangka
menambah nilai lebih dari seorang guru yang termat dangkal ilmu
teknologi informasi ini. Seperti musafir di padang pasir, semuanya saya
lahap sampai mungkin banyak kesalahan yang saya lakukan dalam mengikuti
trainin online ini. Namun demikian lebih baik salah dari pada tidak
melakukan sama sekali bukan?
Satu kat yang keluar dari mulut saya untuk pelatihan ini : AMAZING!
Pelatihan
yang mudah diikuti bagi yang sudah melek IT, tetapi bagi saya ini
tantangan bahwa seorang guru mestilah mampu mengatasi keterbatasan yang
dimiliki dengan memperkaya khasanah keilmuan lain untuk mendukung
profesinya. apapun itu pasti bermanfaat bagi kita, guru. Menu-menunya
yang menantang, tugas-tugasnya yang membangkitkan selera belajar dan
motivasinya juga tidak ketinggalan menstimulus naluri kemanusiaan
seorang pembelajar.
Deadline-deadline yang membuat kita tertantang
untuk menyelesaikannya, tetapi masih relatif bisa diatasi jika kita
bersungguh-sungguh. Sekali lagi ini adalah pelatihan pertama yang saya
ikuti secara online dan AMAZING buat Pak Sukani dengan tarining guru melek IT di EDU 2.0. Semoga orang pertama yang masuk syurga sesuai kategor sabda nabi itu adalah Mr. Sukani.
Tampilkan postingan dengan label suara hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label suara hati. Tampilkan semua postingan
Senin, 02 Juni 2014
Rabu, 28 Mei 2014
Ketika Allah Menjadi Tidak Penting Buatku
desiran darah merayu menggoda
seperti iblis yang merayu
sungut-sungut menghela nafsu
angkara : kau adalah makhluk paling mulia,
maka lakukanlah apa kau suka,
sebab kemuliaan takkan pernah ternoda
Ketika Allah menjadi tidak penting buatku,
gelombang kerakusan menggelora
iblispun berselancar diatas papan rayuan
membelai : Duh, makhluk kekasih Allah
tidakkah kau merasa rugi membuang waktu tersia
lihatlah elok nian tubuh indah itu
rengkuhlah kenikmatan yang merupakan hakmu,
sungguh demi Allah! kemuliaan tetap terjaga
engkau tetap kekasihNya tanpa cela
Ketika Allah menjadi tidak penting buatku,
Gemerlap lampu memantulkan cahaya
kehausan atas dahaga tak bertepi
Sekali lagi iblispun berdansa riang diiringi
musik rap, disco diselingi goyang dangdut
penari striptis menjilati peluh tubuhku
berdendang: Wahai, lelaki shalih
yang berzikir tak henti-henti,
lihatlah betapa harta tak penting buatmu,
mengapa tak kau amalkan, ambillah barang sedikit
dari kantung negaramu sebarkan untuk rakyat miskin,
pelacur tua yang tak laku, pesantren reot, atau istrimu
yang berdaster lusuh. teruslah berzikir usah ragu
sebab kenikmatan hanya sesaat
Ketika Allah tidak penting lagi buatku,
kerongkonganku tersekat perih
dadaku sesak sebab dosa
dentangan jam membentur kepala keras
nanar kupandangi wajah orang-orang terkasih
lantas : Iblis terkekeh menertawaiku yang telat bertobat
saat ijrail mencerabut kawan setiaku : ruhku
BALADA SUKIRMAN
Sukirman,
pagi itu memelas menahan keperihan derita
pestisida telah mengaduk-aduk ketabahan
melepas kegetiran bersama dua belahan jiwanya
Sukirman,
menuliskan sendiri takdirnya
juga dua anaknya, robi dan adam
khotijah hanya bisa meneteskan air mata
sebab kematian itu disutradarai jantung hatinya
Adam,
dalam mudanya bertemu khalik
mengabari penghuni barzah
bahwa negeri ini adalah negeri pengais derita
pemimpinnya hobi menebar sengsara
ulamanya hobi mengeluarkan fatwa
kematian itu adalah surga
untuk rakyat yang tak tahan menghiba
pagi itu memelas menahan keperihan derita
pestisida telah mengaduk-aduk ketabahan
melepas kegetiran bersama dua belahan jiwanya
Sukirman,
menuliskan sendiri takdirnya
juga dua anaknya, robi dan adam
khotijah hanya bisa meneteskan air mata
sebab kematian itu disutradarai jantung hatinya
Adam,
dalam mudanya bertemu khalik
mengabari penghuni barzah
bahwa negeri ini adalah negeri pengais derita
pemimpinnya hobi menebar sengsara
ulamanya hobi mengeluarkan fatwa
kematian itu adalah surga
untuk rakyat yang tak tahan menghiba
Selasa, 27 Mei 2014
Guru Unggul
Jenderal Soedirman sebagai contoh pemimpin bangsa ini yang brlatar belakang
guru. Bagaimana sepak terjangnya selama perang kemerdekaan, tidak terlepas dari
jiwanya yang memang seorang guru. Maka, tak heran kalau ia sungguh sangat
dihormati oleh teman maupun musuh-musuhnya. Meski tidak menenyam pendidikan
guru seperti kita sekarang, tetapi kepribadiannya yang unggul dapat membawanya
ke puncak karir tertinggi di ketentaraan Indonesia. Pendidikan memang sangat
memgang peranan penting bagi kemajuan bangsa ini.
Pendidikan yang maju tidak bisa lepas dari peran serta guru sebagai pemegang kunci keberhasilan. Guru menjadi fasilitator yang melayani, membimbing, membina dengan piawai dan mengusung siswa menuju gerbang keberhasilan. Hidup dan mati sebuah pembelajaran bergantung sepenuhnya kepada guru. Guru mempunyai tanggung jawab menyusun strategi pembelajaran yang menarik dan yang disenangi siswa, yakni rencana yang cermat agar peserta didik dapat belajar, butuh belajar, terdorong belajar, mau belajar, dan tertarik untuk terus-menerus mempelajari pelajaran.
Pertanyaan yang muncul kemudian, bagaimana seseorang bisa dikatakan sebagai guru unggul?
Pendidikan yang maju tidak bisa lepas dari peran serta guru sebagai pemegang kunci keberhasilan. Guru menjadi fasilitator yang melayani, membimbing, membina dengan piawai dan mengusung siswa menuju gerbang keberhasilan. Hidup dan mati sebuah pembelajaran bergantung sepenuhnya kepada guru. Guru mempunyai tanggung jawab menyusun strategi pembelajaran yang menarik dan yang disenangi siswa, yakni rencana yang cermat agar peserta didik dapat belajar, butuh belajar, terdorong belajar, mau belajar, dan tertarik untuk terus-menerus mempelajari pelajaran.
Pertanyaan yang muncul kemudian, bagaimana seseorang bisa dikatakan sebagai guru unggul?
Seorang guru mestilah ia unggul dan profesional sebab ia
akan mendidik banyak manusia yang diharapkan menjadi manusia unggul. Keunggulan
pribadi seorang guru mutlak diperlukan guna mendukung proses pendidikan baik di
kelas maupun di luar kelas.
1. Berakhlak
Sudah barang tentu untuk menjadikan manusia unggul, maka guru harus unggul dalam akhlaknya. Tidak ada manusia yang sempurna, memang benar, tapi seorang guru mestilah menggambarkan sosok yang berakhlak. Mulai dari performancenya sampai kepada cara mengajar dan bergaul.
2. Berfikir Positif
Selalu berfikir positif akan mempermudah cara pandang seseorang terhadap sesuatu. Membiasakan berfikir positif akan selalu membuat diri seorang guru memandang permasalahan yang dihadapinya dalam proses kegiatan pembelajaran menjadi obyektif. Karena selalu berfikir positif, maka muaranya akan berbuat kebajikan dengan penuh keikhlasan. Seorang guru yang unggul akan selalu mengedepankan prinsip keikhlasan dalam mengajar.
3. Berdedikasi atas pekerjaannya
Kini nasib guru tidak selalu seperti yang didendangkan Iwan
Fals, apalagi guru yang tinggal dan bekerja di Jakarta. Guru sudah relatif
sejahtera, karena perhatian dari pemerintah yang sudah semakin baik terhadap
dunia pendidikan. Oleh karenanya guru unggul tidak lagi menyandarkan
pekerjaannya dengan imbalan yang ia terima, tetapi bekerja secara optimal dan
profesional. Pada akhirnya akan menghasilkan bibit unggul yang memajukan bangsa
Indonesia.“Saya tidak
pernah bermain setengah hati karena hasilnya pasti setengah-setengah juga” [Michael
Jordan, Pebasket Terkenal]
4. Terbuka terhadap kritik
4. Terbuka terhadap kritik
Seorang guru unggul akan selalu terbuka atas penilaian orang lain terhadap dirinya positif maupun negatif. Guru yang unggul memang harus tahan banting dan berani menerima tantangan seberat apapun. “Jangan berdoa agar hidup ini ringan, tetapi berdoalah agar anda menjadi orang yang tahan banting” [John F. Kennedy, Presiden Amerika Serikat] .
sumber : dari berbagai sumber
Senin, 26 Mei 2014
Dicari : Sekolah Islam Murah Berkualitas!
Kalau kita bisa kilas balik sejenak, kita akan melihat dengan penuh kekaguman. Bahwa Indonesia pernah menjadi salah satu bangsa yang dihormati karena keluasan dan kekayaan khazanah keilmuannya. Tidak sedikit dari anak bangsa ini yang diakui keilmuan dan kepribadiannya, Imam Nawawi Al bantani, KH. Wahid Hasyim, KH. Ahmad Dahlan, Mohammad Hatta, Soekarno, Tan Malaka, Buya Hamka, Syafrudin Prawiranegara, Mohammad Husni Thamrin, dan masih banyak lagi. Hampir bisa dipastikan peran mereka dalam perjalanan bangsa ini. Pendidikan yang mereka peroleh bisa jadi tidak hanya dari bangku sekolah, namun juga tidak menafikan arti pentingnya latar belakang akademis. Mereka yang sebagian besar muslim, tentunya sangat membanggakan bagi kita, komunitas muslim Indonesia. Tidak diragukan lagi peran ummat islam dalam perjalanan sejarah Indonesia hingga saat ini.
Kini, Indonesia jauh tertinggal dengan negara Jiran, Malaysia dan Singapore. Apa yang salah dengan bangsa ini? Pendidikan kita semakin menjadi komoditas bisnis, apalagi dengan telah dibukanya kebebasan bagi negara lain untuk membuka instutsi pendidikannya di Indonesia. Bahwa pendidikan membutuhkan biaya, kita tidak menampik hal tersebut. Tetapi pendidikan menjadi komoditas bisnis, inilah masalahnya. hal ini juga yang sedang melanda pendidikan di dunia islam. Menjamurnya sekolah-sekolah dengan embel-embel terpadu, makin membuat biaya pendidikan membengkak. Seolah dengan tambahan kata terpadau sekolah tersebut sudah menjamin kualitas siswanya. Padahal? Sebuah fenomena yang memiriskan hati. Sebagian besar bangsa ini muslim, sebagian besar bangsa ini yang jelata adalah muslim yang secara ekonomi tidak akan mampu membiayai pendidikan pada sekolah-sekolah berlabel terpadu atau sekolah model, sekolah unggulan atau apalah namanya. Karena kita sama-sama tahu, sekolah-sekolah tersebut jor-joran mengiklankan diri dengan fasilitas serba baik, metode pengajaran serba bagus, lulusan serba unggul, pengajar serba berkualitas dan profesional, kurikulum hasil kawin dengan sekolah-sekolah luar negeri yang diakui secara internasional. Sebagai akibatnya, sekoalh-sekolah tersebut menuntut biaya yang "memadai" untuk operasionalnya. Dengan kata lain, sekolah berbiaya tinggi dan hanya orang-orang berkantong tebal yang bisa menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah tersebut.
Memang tidak semua sekolah Islam berkualitas berbiaya tinggi, namun mungkin bisa dihitung dengan sepuluh jari. Smart Eklensia, milik Dompet Dhuafa di Parung, SMP dan SMK Utama milik PLN di Gandul Cinere sebagian kecil sekolah cuma-cuma berkualitas dan terpercaya. Sebagian besar sekolah Islam berlabel terpadu, berkurikulum internasional atau berlisensi serba mahal. Di samping itu, dua sekolah gratis di atas diperuntukkan bagi siswa dhuafa tapi pandai. Bagaimana dengan anak-anak biasa saja? Sekolah pemerintah ? Dengan kondisi saat ini, rasanya tidak mungkin membina siswa yang biasa-biasa saja, gratis sekalipun. Perbandingan guru dengan siswa yang jomplang, tidak sebanding. Satu kelas ditangani satu guru dengan jumlah sekitar 40-an siswa. Gratis? perlu dipertanyakan juga kalau SD dan SMP milik pemerintah gratis, faktanya buku dan biaya tambahan lainnya tetap dipungut.
Lantas dimanakah sekolah Islam murah berkualitas? Adakah kesempatan untuk anak-anak muslim yang secara ekonomis orangtuanya termasuk golongan tidak mampu, anaknya biasa-biasa saja untuk menimati sekolah murah bahkan gratis dan berkualitas?
Rabu, 21 Mei 2014
Pagi ini, Aku Minum Kopi dengan Tuhan
terima kasih Tuhan, Engkau memberiku waktu
minum kopi bersamaMu
seringkali aku dimakan waktu hingga sulit
mengatur jadual bertemu denganMu
meski hanya dua menit saja!
Pagi ini, kuminum kopi denganMu, Tuhan
negeri ini terlalu terkoyak
sebab duapertiga telah dikuasai
pemimpin korup, pengusaha bejad, penegak hukum fasik
dan rakyat yang linglung dibebani utang,
ulama yang mengemis harta
Mengapa Kau biarkan juga penyakit ini
menahun mendera gerogoti negeriku?
atau Kau bosan dengan tingkah kami
yang selalu menantangMu
meski beribu bencana Kau timpakan
Pagi ini, kuminum kopi dengan Tuhan
harum kopi mewangi sejenak melenakanku
dalam kenikmatan mimpi
bersama uapnya yang hilang tak bertepi
Tuhan,
kejujuran bangsaku memang terdegradasi
pada titik terendah. tapi harapku Kau
mau memberi waktu
kehangatan kopiMu masih kureguk
jangan segera pergi, Tuhan
ku masih ingin bersenda dalam gurauanMu
meski negeri ini terseok dalam kepayahan
senymMu mencerahkan pagi ini
lewat sinar mentari yang tak henti bertasbih
tenggelamkan kami dalam lautan ridhaMu
meski darah kami terkontaminasi dosa membukit!!
Pagi ini cerah merona
secangkir kopi dihidangkan Tuhan untukku ...
Langganan:
Postingan (Atom)